Home / Riau Region
Riau Rentan Kebakaran Lahan
Tribun Pekanbaru - Selasa, 1 Februari 2011 11:48 WIB
Share |
KEBAKARAN-LAHAN.jpg
BOY/Tribun Pekanbaru
KEBAKARAN - akibat seringnya terja di kebakaran lahan dua hari terakhir, kabut asap mulai menyelimuti Pekanbaru.
Laporan : Wicaksana Arif Turbrilian
PEKANBARU, TRIBUN - Wakil Gubernur Riau, HR Mambang Mit, membuka acara dengan memberi sambutan dalam acara Dialog Menteri Negara Lingkungan Hidup yang diselenggarakan di hotel Aryaduta. Turut juga wakil ketua DPRD Provinsi Riau Kepala pusat studi ekoregion Sumatra.

Dalam acara tersebut, Mambang mengatakan, 67 persen tanah di Riau yakni lahan gambut. "Apabila sudah terbakar, sulit untuk dipadamkan," ujarnya, Selasa (1/2/2011).

Pihaknya juga meyakini akan keterbatasan kemampuan manusia untuk memadamkan api tersebut. "Bencana alam hanya bisa ditanggulangi oleh alam, manusia tidak akan mampu menanganinya," tandasnya.

Solusi yang diajukan Mambang yakni dengan melakukan tindakan pencegahan. "Dalam kesempatan kali ini kami akan berkoordinasi dengan 12 bupati-walikota yang ada di riau untuk melakukan tindakan pencegahan," ulasnya.

Adapun bagaimana teknis di lapangan, pihaknya mengatakan akan menjaga ketersediaan air yang cukup di lahan-lahan gambut tersebut. "Bila ketersediaan air terbatas di titik-titik rawan kebakaran, kami akan buat saluran irigasi," paparnya.

Hal-hal lain yang pernah dilakukan Pemerintah Provinsi Riau yakni,  mengusulkan pengadaan Helikopter, namun pihaknya menyesalkan karena belum ada realisasi dari pemerintah pusat. "Heli digunakan bukan untuk memadamkan api, namun hanya memantau kondisi lahan sebelum terjadi kebakaran," kata Mambang.

Pada kesempatan berikutnya giliran Menteri Negara Lingkungan Hidup, Gusti Muhammad Hatta, mengatakan, akibat efek rumah kaca, suhu di Pekanbaru naik 0,1 derajat per tahun. "Jadi kebakaran hutan juga bisa dipengaruhi kenaikan suhu yang terjadi di Provinsi Riau," ujarnya.

Kenaikan suhu di Provinsi Riau  banyak disebabkan oleh gas CO2 dan gas metan. "Gas metan tersebut banyak terdapat di lahan-lahan gambut, kebetulan 67 persen wilayah Riau adalah lahan gambut," paparnya.

Maka dari itu, pihaknya mengajukan program beberapa program, supaya dapat dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mencegah terjadinya kebakaran. "Kami sudah membentuk gerakan Masyarakat Peduli Api (MPA/red) di beberapa tempat di Riau ini," ujarnya.

Sedangkan apa yang dilakukan oleh gerakan ini, yakni memberikan banyak pengarahan kepada masyarakat untuk tidak membakar hutan atau ladang untuk membuka lahan. "Pemerintah memberikan beberapa alat untuk menunjang kerja MPA, dalam membina masyarakat" lanjutnya.

Selain itu Gusti juga mengatakan, perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan juga harus melakukan pembinaan dan ikut membantu memberikan alat-alat yang dibutuhkan masyarakat. "Di perusahaan itu ada program yang disebut CSR (Corporate Social Responsibility/red)," tambahnya.

Dalam acara tersebut, Gusti menyampaikan permintaan Presiden kepada Kementrian Lingkungan Hidup untuk menurunkan jumlah titik panas yang ada di Indonesia. "Presiden meminta penurunan jumlah titik panas 20 persen dari angka yang ada," lanjutnya. (*)

Editor : rinal

© 2010 Tribunnewspekanbaru.com. All Right Reserved | Redaksi | Contact Us | Info iklan | Website By Ioezhe