Home / Riau Region
Tajam, Pejuang Pendidikan Pedalaman Talang Mamak
Tribun Pekanbaru - Selasa, 1 Februari 2011 02:50 WIB
Share |
peristiwa-sekolah-talang-mamak-07.jpg
Pekanbaru, Tribunnewspekanbaru.com- Warga pedalaman Riau selama ini hanya bisa memendam harapan untuk memperoleh pendidikan yang layak. Suara mereka seakan tak terdengar.

Namun, bukan berarti mereka lantas menyerah kalah dengan keadaan. Segelintir manusia dengan tekad baja terus berjuang untuk membangun pendidikan di Desa Talang Durian Cacar Kecamatan Rakit Kulim, sebuah perkampungan masyarakat adat Talang Mamak yang berada di pelosok Kabupaten Indragiri Hulu.

Matahari siang itu tertutup awan mendung, saat 20 pemuda dan pemudi Talang Mamak memulai menimba ilmu di sebuah bangunan yang mereka sebut sekolah. Mereka duduk di dua lembar tikar panjang yang digelar di tanah, untuk memisahkan murid laki-laki dengan perempuan.

Seekor anjing kampung terlihat mondar-mandir dengan leluasa melewati mereka. Maklumlah, bangunan itu tak punya dinding apalagi pintu. Bangunan dari kayu berukuran sekira 5x10 meter itu juga tak memiliki atap. Sekolah itu terlihat transparan di tengah pohon-pohon pinang yang tegak menjulang di sekelilingnya.Yang tampak kontras hanya sebuah papan tulis putih di tengah sekolah beratap langit itu. "Sekolah ini tak punya nama," kata Tajam, satu-satunya guru di tempat itu.

Tajam mengaku orang yang cukup beruntung di desa itu karena bisa membaca dan berhitung. Sedangkan, mayoritas warga Talang Mamak, yang merupakan suku Melayu Tua di Riau, masih terbelenggu kebodohan dan kemiskinan.

Dengan berbekal ijazah Paket B, setara pendidikan SMP, pria berkulit putih itu nekat mendirikan sekolah untuk warga Talang Mamak sejak tahun 2007. Sekolah yang didirikannya adalah lembaga pendidikan pertama untuk warga Talang Mamak. "Semua pakai biaya saya sendiri dan gratis untuk yang mau belajar," ujarnya.

Menurut Tajam, murid di sekolah itu rata-rata berumur 16-20 tahun. Sekolah biasanya dimulai pada siang hari setelah para siswa selesai membantu orang tua berladang. Ia pun menyadari untuk mendidik anak Talang Mamak butuh kesabaran karena yang ia coba ubah adalah pola pikir mereka untuk menyadari tentang pentingnya pendidikan.

Di sekolah itu Tajam mengajar lima mata pelajaran mulai dari Bahasa Indonesia, Matematika, IPS, IPA dan PPKN. Ia juga membekali anak didiknya dengan pelajaran keterampilan menganyam tikar atau hiasan lainnya dari daun rumbia. "Saya tidak ingin generasi muda Talang Mamak dibodohi orang. Cukup orang tua kami yang tidak pandai baca tulis," katanya.

Tajam terus berusaha untuk mempertahankan sekolah Talang Mamak di tengah kondisi yang serba kekurangan. Ia mengatakan sekolah itu sempat memiliki meja dan kursi, namun kini sudah lapuk semua dan tak bisa dipakai. Sedangkan, atap rumbia yang dahulu menghiasi atap sekolahnya sudah rusak. Alhasil, sudah selama sebulan terakhir sekolah tersebut tak punya atap.

Meski begitu, Tajam secara perlahan-lahan mencoba untuk mengganti atap dengan biaya sendiri. Ia menyadari bahwa berkeluh kesah untuk meminta bantuan kepada pihak lain adalah hal yang percuma, apalagi meminta bantuan pemerintah yang selama ini seakan memandang sebelah mata untuk membantu pendidikan warga Talang Mamak. "Talang Mamak bukan suku tertinggal, tapi kami memang ditinggalkan pemerintah," ujarnya.

Tidak Digaji

Wajar jika sebagian besar warga Talang Mamak merasa ditinggalkan pemerintah. Sebanyak 48 kepala keluarga di Desa Talang Durian Cacar hingga kini sangat minim merasakan derap pembangunan di era otonomi daerah. Lokasi permukiman Talang Mamak itu berjarak sekitar 35 kilometer dari Jalan Lintas Timur Sumatera dan sekitar 50 kilometer dari pusat kota Rengat, Ibukota Indragiri Hulu.

Kondisi jalan tanah di medan yang berbukit sangat sulit dilalui karena kondisinya rusak parah. Jalan tanah itu makin sulit dilalui saat hujan karena berubah jadi kubangan lumpur.  

Di bidang pendidikan, pemerintah baru mulai membuka sebuah sekolah dasar (SD) di Desa Talang Durian Cacar pada Oktober 2010. Namun, nasib mengenaskan justru dialami guru di sekolah yang bernama SDN 023 itu. Mereka ternyata belum sekali pun menerima gaji sejak pertama mengajar di tempat itu. "SD negeri ini beroperasi sejak Oktober 2010, dan sampai sekarang guru belum menerima gaji," kata seorang guru, Bambang Eko Santoso.

Di sekolah itu hanya ada tiga guru yang mengajar 35 siswa dari kelas satu hingga kelas lima. Bahkan, hingga kini para guru belum mengetahui status mereka sebagai pengajar di institusi pendidikan tersebut. "Kami belum diangkat jadi pegawai. Kami sendiri bingung statusnya apa," katanya.

Kondisi di sekolah itu juga sangat memprihatinkan karena para guru merangkap sebagai pengajar untuk dua sampai tiga kelas secara bersamaan. Sebabnya, sekolah itu hanya memiliki dua ruang belajar. Mereka juga merangkap sebagai pengajar berbagai mata pelajaran untuk tiap kelas yang berbeda. "Satu papan tulis juga digunakan untuk mata pelajaran kelas satu dan dua," kata Siti Rohmah, yang juga guru.

Meski belum mendapatkan haknya, para guru di tempat itu tetap berusaha menjalankan kewajiban mereka sebagai pendidik dengan sebaik mungkin. Siti Rohmah mengatakan dirinya juga tak pernah lelah untuk terus memberi pengertian kepada keluarganya mengenai tugas yang diembannya. "Sering keluarga bertanya kenapa saya bekerja tapi tak bawa apa-apa waktu pulang ke rumah. Saya bilang ini adalah tugas pengabdian," katanya.

Untuk merasakan pendidikan yang layak di daerah pedalaman memang tak mudah, namun mereka yang segilintir itu berani merintisnya dengan semangat pengabdian.(*)

Editor : johanes
Sumber : Antara

© 2010 Tribunnewspekanbaru.com. All Right Reserved | Redaksi | Contact Us | Info iklan | Website By Ioezhe