Home / Nasional
Marthy Minta 6.100 WNI di Mesir Waspada
Tribun Pekanbaru - Senin, 31 Januari 2011 05:50 WIB
Share |
Marty-Natalegawa.jpg
Dok/ Tribun Pekanbaru
Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa
JAKARTA,Tribunnewspekanbaru.com - Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan Pemerintah Indonesia belum berencana untuk mengevakuasi Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Mesir. Hingga Minggu (30/1), WNI di negara yang sedang bergolak meminta Presiden Hosni Mubarak mundur itu dipastikan dalam keadaan baik.

"Tapi hingga saat ini warga kita semua masih bisa dalam keadaan baik, aman, dan insya Allah dalam keadaan baik," ungkap Marty di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu (30/1).

Marty menjelaskan pemerintah sendiri sudah mengeluarkan travel advisory atau peringatan perjalanan kepada WNI yang ada di Mesir. Peringatan yang sama juga diberikan kepada mereka yang berencana mengunjungi negara tersebut.

"Terutama bagi yg sudah berada di Mesir agar senantiasa meningkatkan kewaspadaaan, menghindari tempat-tempat keramaian dan berkomunikasi terus-menerus dengan KBRI kita," katanya.

"Kami sudah menampilkan beberapa nomor yang bisa dihubungi bagi mereka yang belum berada di Mesir dan berencana ke sana. Saran dari Pemerintah Indonesia adalah untuk menimbang kembali rencana tersebut," tegas Marty.

Marty mengatakan WNI yang ada di Mesir dan sekitarnya berjumlah kurang lebih 6100 orang. Menyusul gejolak yang tengah terjadi di negara tersebut, Kementerian Luar Negeri juga turut meminta semua kantor perwakilan untuk meningkatkan kewaspadaan.

Revolusi di Tunisia dan gejolak Mesir berpotensi merembet ke Indonesia. Pemicu munculnya perakan perlawanan terhadap kekuasaan biasanya akibat adanya oleh krisis pangan, lemahnya daya beli masyarakat, kemiskinan, ketidakadilan dan kelicikan pemerintah yang berkuasa.

"Apakah gelombang perlawnan ini juga akan merambat ke Indonesia? Indonesia pernah mngalami pada akhir dekade 90-an dalam fase Gelombang ke-3. Namun melihat proses reformasi yang ambradul, kepemimpnan nasional yang semkin kehilngan kepercayaan, dan tingginya angka kemskinan, bukn tidak mungkn gelombg kembali ke Indonesia," ujar pengamat internasional dari Univertitas Parahyangan Bandung, Dr Andre Hugo Parera.

 "Kritik tokoh-tokoh lintas agama, kemarin, yang menyebut pemerintah bohon pada beberapa program kerja merupakan ekspresi ketidakpuasan masyarakat. "menurut hemat saya, ini akan mempercepat proses bergulirnya gerakan perlawanan ketidakpuasan msyarakat terhadap pemeritnah," kata Andre, mantan anggota DPR RI dari Fraksi PDIP.

Andre menjelaskan, pergolakan politik di negara-negara Timur Tengah dalam beberpa minggu terakhir ini ibarat gelombang pergolakan yang bergerak dengan daya dobrak tinggi dari satu negara ke negara yang lain.

Menggunakan frame analysis-nya Samuel Huntington, kata pengajar Hubungan Internarsiaon ini, gejolak di Timur Tengah ibaratnya gelombang demokrasi ke-4 setelah Perang Dunia Ke-2: dari Eropa Selatan, Amerika Latin, Asia Timr-Tenggara sekarang ke Timur Tengah. "Pemicunya adalah kelaliman rezim otoritarian, kemiskinan dn ketidakadilan," kata Andre. (tribunnews/mun/amb)


Penulis : zulham
Editor : zulham
Sumber : Tribunnews

© 2010 Tribunnewspekanbaru.com. All Right Reserved | Redaksi | Contact Us | Info iklan | Website By Ioezhe