Home / Superball
Australia vs Jepang, Berebut Takhta Asia
Tribun Pekanbaru - Sabtu, 29 Januari 2011 06:15 WIB
Share |
Tim-Cahill-dan-Makoto-Hasebe.jpg
Dok/ Tribun Pekanbaru
Tim Cahill dan Makoto Hasebe
Berita Terkait
Perhelatan akbar putaran final Piala Asia 2011 memasuki fase akhir. Klimaks akan terjadi pada partai final yang memertemukan dua tim raksasa benua Kuning.Tajuk pun sudah beragam. Sayatan tajam samurai versus kecepatan membunuh ala bumerang, adu tajam Harry Kewell kontra Keisuke Honda, duel ketagguhan kiper Eiji Kawashima dan Mark Schwarzer, hingga perang strategi Alberto Zaccheroni dengan Holger Osieck.
    
Itulah secuil persaingan ketat yang akan terlihat saat Jepang bertemu Australia, untuk berebut takhta Asia pada perhelatan partai final Piala Asia 2011 di Khalifa International Stadium, Doha, Qatar, Sabtu (29/1) malam ini.Bukan sekadar isapan jempol tatkala semua pihak menyebut dua tim pantas berada di partai puncak untuk menentukan siapa yang berhak menyandang gelar raja Asia.
    
Jepang berhasil keluar dari tekanan heroik Korea Selatan (Korsel) di babak semifinal. Kemenangan mereka menunjukkan mentalitas luar biasa seorang prajurit Samurai.Setali tiga uang, Australia dengan jumawa menebas negara pecahan Eropa, Uzbekistan, dengan setengah selusin gol tanpa balas. Aussie terlihat begitu perkasa.
    
"Enam gol memang membuktikan betapa kami sangat kuat. Tapi itu tak akan membuat kami terlalu percaya diri. Bertemu Jepang, kami akan bersua dengan tim yang senang mengumbar serangan dan adu frontal potensi, mereka tak akan bertahan total," ucap Kapten Australia, Lucas Neill, dikutip Goal.com, Jumat (28/1), yang menyiratkan gladiator laga final tidak akan mudah.
    
Apalagi kedua pelatih, Alberto Zaccheroni dan Holger Osieck, memastikan diri menggunakan prinsip don't change the winning team.    Walhasil, minus Shinji Kagawa yang cedera, partai puncak akan dihiasi perang bintang Asia yang sesungguhnya.

Kedua tim juga tengah on fire, dan sama-sama mengejar catatan sejarah. Jepang ingin menjadi leader dalam pengumpulan gelar juara. Saat ini, Dai Nippon berada di posisi sejajar dengan Iran dan Arab Saudi, mengoleksi tiga gelar juara (1992, 2000, dan 2004). Sementara Aussie ingin merengkuh gelar perdana setelah bergabung dengan zona Asia.
    
Perebutan area akan menampilkan performa individu luar biasa bintang- bintang Asia yang ada di kedua kubu.Sangat menarik melihat kreasi Makoto Hasebe, Yasuhito Endo, Keisuke Honda, dan Ryoichi Maeda untuk menopang pergerakan striker Shinji Okazaki.
    
Zaccheroni menyebut, timnya harus sedikit mengubah pola permainan kolektif di lini tengah agar bisa memberi tekanan stabil."Hal tersulit melawan tim seperti Australia adalah kematangan mereka yang sangat luar basa. Saya kenal para pemain senior mereka, dan itu membuat kami harus bekerja keras membuka area tengah. Perlu kerja keras 150 persen untuk menguasai area itu," ucap Mr Zac di JFA.or.jp, Jumat (28/1).
     
Wilayah dapur serangan memang memang menjadi titik sentral penguasaan irama permainan. Di kubu Australia, kualitas Harry Kewell, Tim Cahill, Carl Valeri, David Carney, Mile Jedinak, ataupun Brett Emerton menjadi tulang punggung.Permainan pemain muda Brett Holman dan sayap Matt McKay menjadi paling diharapkan Osieck untuk menciptakan prahara tambahan bagi Yuto Nagatomo dkk di area belakang tim Matahari Terbit.
    
Kedua tim juga bakal memaksimalkan kesempatan tendangan bebas mengingat mereka memiliki para jagoan free kick seperti Honda, Endo, dan Hasebe (Jepang), serta Cahill, Kewell dan Ognenovski (Australia)."Saya yakin pertandingan nanti akan sangat ketat. Tim Australia sangat bagus dan kami harus tampil dalam performa terbaik untuk mengalahkan mereka. Meski kami tak terkalahkan sepanjang turnamen, itu bukan garansi. Yang pasti, kami tak ingin ada perpanjangan waktu lagi," tegas kiper Eiji Kawashima di AFC.com, kemarin.
    
Jepang optimistis bisa mengulangi kejadian pada babak perempatfinal Piala Asia 2007, saat menang adu penalti, sekaligus menjadi kado pahit bagi debut Australia di zona Asia.Dari sisi pertemuan, tim Negeri Kanguru patut percaya diri. Dalam 18 kali pertemuan, mereka menang 7 kali, seri 6 kali, dan kalah 5 kali. Kemenangan terakhir terjadi pada kualifikasi Piala Dunia 2010, medio Juni 2009, dengan skor 2-1.
    
"Saya sudah bisa melihat garis finis. Tapi masih ada pekerjaan luar biasa yang harus kami selesaikan, yakni melawan Jepang. Tim sudah berkutat dengan strategi, dan saya pikir kami akan memperoleh hasil maksimal. Menang 6-0 melawan Uzbekistan bukan jaminan karena kami harus melawan negara Asia 'sungguhan' sementara kami anak baru," tutur Cahill.
    
Persiapan kedua tim memang menyiratkan aroma peperangan dahsyat. Minus Kagawa dan gelandang Daisuke Matusi (cedera), Jepang bisa mendapatkan kembali bek  tengah Maya Yoshida yang bebas dari sanksi.Kekosongan posisi Kagawa bisa ditutup dengan impresivitas seorang Hajime Hosogai. Sayatan Samurai mereka siap memporakporandakan Lucas Neill, Sasa Ognenovski, Matt McKay, dan Luke Wilkshire ataupun Brett Emerton.
    
Sementara Australia terhitung turun full team. Brett Emerton sudah bisa kembali bermain, sementara McKay, Kewell, Cahill, dan Holman tengah berada di puncak permainan."Kami akan saling serang, pertandingan makin seru setelah satu tim mencetak gol, dan saya harap itu akan menjadi milik kami," tukas Cahill.
    
Ancaman Cahill tidak berarti mudah. Justru lini belakang Aussie yang dihuni bek tua, Neill (32) dan Ognenovski (31), rentan mendapat cabikan dari barisan samurai muda yang diisi Okazaki (24), Honda (24), dan bek sayap Yuto Nagatomo (24).(Tribunnews/bud)

Penulis : zulham
Editor : zulham
Sumber : Tribunnews

© 2010 Tribunnewspekanbaru.com. All Right Reserved | Redaksi | Contact Us | Info iklan | Website By Ioezhe