Home / Bumi Lancang Kuning / Kampar
Pemilik Lahan Adang Ekskavator
Tribun Pekanbaru - Rabu, 26 Januari 2011 06:22 WIB
Share |
Eksekusi-lahan-di-kampar.jpg
Budi/ Tribun Pekanbaru
Eksekusi lahan di Desa Batu Belah dan Jalan Ali Rasyid, Bangkinang, Selasa (26/1), berlangsung tegang.
BANGKINANG, Tribunnewspekanbaru.com - Eksekusi lahan di Desa Batu Belah dan Jalan Ali Rasyid, Bangkinang, Selasa (26/1), berlangsung tegang. Pemilik lahan sempat melakukan perlawanan saat ekskavator mulai merobohkan bangunan yang berdiri di atas lahan akan dieksekusi.

Masing-masing pemilik lahan berupaya menggagalkan eksekusi, meski akhirnya berhasil juga dilakukan eksekusi dengan pengawalan dari Satpol PP dan Polisi.Pemilik lahan di Desa Batu Belah, Ngadio, yang datang sesaat sebelum ekskavator merobohkan bangunan di lahan miliknya, sempat menghalau Satpol PP. 

Dengan suara lantang, ia mengatakan, bangunan miliknya tidak masuk dalam batas eksekusi. Selain itu, ia juga meneriakkan sumpah serapah kepada Pemda Kampar."Eksekusi ini sudah melanggar hukum. Bangunan tidak masuk dalam eksekusi. Harusnya ada keputusan di pengadilan terlebih dahulu sebelum dieksekusi. Ini sudah tindakan pidana. 

Pemerintah Daerah sangat arogan dan bertindak tidak adil," ungkapnya lantang.Berkali-kali Ngadio mencoba memberikan pengertian kepada tim dengan membeberkan dokumen. Namun, usahanya sama sekali tidak direspon. Ekskavator terus menghancurkan enam toko yang berdiri di atas lahan tersebut Merasa tidak direspon, Ngadio berupaya mendekati eskavotor yang tanpa ampun merobohkan bangunan. 

Langkah Ngadio tersebut langsung diadang Satpol PP dan Polisi. Lelaki yang terlihat kian emosi itu langsung diseret menjauhi ekskavator."Saya ingin keadilan, bangunan tersebut tidak masuk yang akan dieksekusi. Objek eksekusi adalah tanah, bukan bangunan. Silakan tangkap saya. Silakan tangkap," teriaknya Ngadio tidak tinggal diam. 

Sambil terus mencak-mencak lelaki yang datang bersama istrinya menyumpahi panitia penyelesaian ganti rugi lahan guna pelebaran jalan Raya Bangkinang, dengan kata-kata pedas."Kalian semua Satpol PP adalah binatang pelacaknya pemerintah daerah. Seenaknya melakukan eksekusi ini tanpa tahu dasar hukumnya. Kalian semua tidak tahu hukum," teriaknya.  

Ngadio membeberkan, proses ganti rugi lahan untuk pelebaran Jalan Raya Bangkinang tersebut, sama sekali tidak termasuk bangunan yang ada di dalamnya. Selama ini, ia hanya diberikan surat peringatan saja agar tidak melakukan pembangunan.Imbauan tersebut diupayakannya. Bahkan, Ngadio sudah mematok batas lahan yang harusnya dieksekusi.

"Saya sudah serahkan lahan saya sepanjang tujuh meter dari bangunan. Ganti ruginya juga belum jelas. Sekarang bangunan tersebut juga dieksekusi. Saya menilai Panitia pembebasan lahan sudah bermain. Mereka yang mestinya dihukum dan diproses. Mereka bekerja tidak dengan landasan hukum yang jelas," ungkapnya. 

Terkait persoalan tersebut, Ngadio mengatakan, akan mempersoalkannya sampai pengadilan. Ia tetap bersikukuh, eksekusi yang dilakukan sudah merupakan tindakan pidana. Usai melakukan eksekusi di Jalan Raya Bangkinang Desa Batu Belah, tim melanjutkan eksekusi di Jl Ali Rasyid, Bangkinang. Lagi-lagi, eksekusi di empat toko yang berdiri di lahan milik Normah berlangsung tegang. 

Pemilik berkali-kali memohon agar tidak dilakukan eksekusi dengan harapan dirinya yang akan merobohkan bangunan tersebut.Selain itu, dirinya juga tidak diberitahukan kalau akan dilakukan eksekusi. "Saya sudah ditipu. Saya dizalimi. Oknum dari PU sudah melakukan penipuan dengan minjam IMB milik saya. Sampai saat ini tidak dikembalikan. Justru bangunan milik saya dieksekusi. Mana keadilan itu. Saya tidak terima dengan perlakukan ini," ujarnya sembari berontak dari pegangan Satpol PP. (brt) 


Penulis : zulham
Editor : zulham

© 2010 Tribunnewspekanbaru.com. All Right Reserved | Redaksi | Contact Us | Info iklan | Website By Ioezhe