Home / Pekan Life
Supir Cabuli Siswa SMP di Angkot
Tribun Pekanbaru - Senin, 24 Januari 2011 19:08 WIB
Share |
pencabulan_anak.jpg
ilustrasi
Laporan: Boy

TribunPekanbaruNews.com
- Robi (24), warga Jalan Pesisir, RT 10/ RW 09, Sri Meranti, Rumbai, menunjukkan ekspresi muka menyesal pada saat berada di ruangan Kanit Reskrim, Mapolsek Rumbai, pada Senin (24/1), pukul 09.30 WIB. Ia hanya bisa pasrah karena aksi bejatnya mencabuli Melati (14) yang selama ini ditutup-tutupinya, akhirnya diketahui oleh keluarga korban.

Pria yang sudah menikah dan memiliki satu orang anak ini berprofesi sebagai supir angkot, dan sering membawa penumpang yang terdiri dari anak sekolah, terutama para siswi. Momen seperti ini dimanfaatkan olehnya untuk menjalin cinta terlarang dengan seorang siswi SMP, dan melakukan pencabulan terhadap siswi tersebut di dalam angkot yang dibawanya.

Menurut Kapolsek Rumbai, AKP Ansori, melalui Kasi Humas, Aiptu Nofrison, kepada Tribun, kejadian ini berawal pada Jum'at (21/1), pukul 11.30 WIB,  Melati yang merupakan salah satu siswi SMP di Rumbai, pulang sekolah menumpang angkot yang dikemudi oleh Robi dengan jurusan Minas-Rumbai.

Saat itu korban duduk kursi penumpang depan, tepatnya disamping tersangka. Hanya mereka berdua yang berada di dalam mobil tersebut, sedangkan kursi penumpang yang ada di belakang kosong. Kaca angkot yang dibawa tersangka menggunakan kaca film ekstra gelap, sehingga tidak kelihatan dari luar. Melihat adanya kesempatan, tersangka membawa korban ke Jalan Yos Sudarso yang letaknya tak jauh dari Rumah Makan Ampera Mira.

Tersangka memarkirkan mobilnya dipinggir jalan, kemudian menyuruh korban pindah ke kursi belakang. Saat itu juga, tersangka langsung melakukan peebuatan tercela kepada korban. Setelah selesai, tersangka mengantarkan korban pulang ke rumah orangtuanya. Ketika sedang di perjalanan, korban minta turun dari angkot tersebut karena melihat teman-temannya sedang berjalan. Setelah turun dari angkot, kemudian korban bergabung bersama teman-temannya.

Setelah sampai di rumah, orangtua korban langsung mengintrogasi korban. Hal ini disebabkan karena orangtua korban curiga terhadap tingkah laku anaknya yang belakangan ini ketika berada di rumah menjadi pendiam dan pemurung. Setelah diintrogasi, akhirnya korban menceritakan peristiwa yang dialaminya selama ini kepada orangtuanya.

Mendengar pengakuan korban, orangtua dan keluarga korban jadi emosi dan kesal kepada tersangka.  Ayah korban mencoba memancing tersangka, dengan cara menyuruh korban bersama teman-temannya kembali menumpang di angkot yang dibawa tersangka. Saat sedang berada ditengah jalan, tiba-tiba angkot yang ditumpangi korban bersama teman-temannya dihentikan oleh ayah korban. Kemudian tersangka digiring ayah korban ke rumahnya, kemudian tersangka diserahkan ke pihak kepolisian.

"Atas tindakan pencabulan yang dilakukan tersangka kepada gadis dibawah umur, tersangka dijerat Pasal 82 Undang Undang No. 23 tahun 2002, tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman kurungan  penjara maksimal 15 tahun," kata Nofrison.

Ia menghimbau kepada masyarakat, khususnya orangtua yang memiliki anak perempuan, agar memberikan pengawasan ekstra kepada anaknya. Supaya hal-hal yang tidak diinginkan bisa dicegah dari awal. "Kepada orangrtua yang anaknya menggunakan angkutan umum ke sekolah, khususnya angkot, diharapkan agar lebih berhati-hati. Upayakan naik angkot yang kacanya terang, dan jangan lupa selalu mengingatkan anaknya, supaya kejadian seperti ini tidak terulang kembali," katanya. (*)

Penulis : zidpoenya
Editor : zidpoenya

© 2010 Tribunnewspekanbaru.com. All Right Reserved | Redaksi | Contact Us | Info iklan | Website By Ioezhe