Home / Dumai Region / Duri
Petani: PT Tumpuan Langgar Kesepakatan
Tribun Pekanbaru - Rabu, 19 Januari 2011 23:11 WIB
Share |
DURI, Tribunnewspekanbaru.com - Konflik lahan kembali terjadi di wilayah Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis. Sebelumnya konflik lahan antara warga Bumbung dengan PT CPI, dan warga Sakai dengan PT Murini, kini antara Kelompok Tani (Ketan) Karya Hubbulwathan dengan PT Tumpuan. Kali ini terkait lahan perkebunan sawit.

Konflik lahan antara Ketan Karya Hubbulwathan dengan PT Tumpuan sempat memanas, Rabu (19/1) sekitar pukul 08.30 WIB hingga pukul 12.30 WIB, yakni dengan dilakukannya aksi demonstrasi disertai penghadangan dan pengusiran eskavator merek hitachi milik PT Tumpuan, yang sedang bekerja membuat kanal di lahan tersebut.

Seratus lebih warga Desa Petani, Kecamatan Mandau itu, tergabung ke dalam Kelompok Tani (KT) Karya Hubbulwathan.Penghadangan dan penggusiran ini dilakukan warga karena warga mengklaim eskavator iu bekerja di lahan garapan mereka yang terletak di Jalan Rangau kilometer 23 Desa Petani.

Warga menilai perusahaan telah melanggar kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya, bahwa lahan itu status quo alias tidak digarap hingga ada keputusan ketetapan hukum siapa pemilik yang sah.Koordinator Aksi, Nahar kepada Tribun menyebutkan, pengusiran dan penyetopan alat berat PT Tumpuan dilakukan warga karena perusahaan telah melanggar kesepakatan yang pernah dibuat saat pertemuan dengan warga.

Kesepakatan itu sudah dibuat sejak perusahaan tersebut melakukan kegiatan tahun 1993 lalu."Tahun 1993 lalu, masyarakat dan pekerja sempat bentrok yang disebabkan permasalahan serupa, yakni sengketa lahan yang tidak berkesudahan. Selama ini masyarakat sudah terlalu bersabar, dan mengalah kepada perusahaan.

Buktinya, dari seluas 200 haktare yang diklaim masyarakat dari batas kanal enam, kanal satu sampai ke kanal dua, kini yang diklaim hanya seluas 80 haktare dari batas kanal satu hingga kanal dua.  Namun pihak perusahaan tetap mengatakan bahwa yang diklaim itu merupakan areal perkebunan yang masuk ke dalan Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan," ungkap Nahar.

Pantauan Tribun di lokasi yakni di kanal dua, eskavator milik PT Tumpuan melakukan kegiatan pembangunan kanal sepenjang 500 meter. Melihat aktivitas alat berat itu, masyarakat kesal dan marah. Mereka pun secara bersama-sama turun ke lokasi melakukan penghadangan dan pengusiran, terhadap eskavator dan pekerja perusahan yang melakukan kegiatan pengimasan lahan itu.

Melihat warga yang datang, dan beberapa saat kemudian operator eskavator pun memundurkan eskavator yang ia kendalikan, dan menuju kanal dua. Begitu juga dengan pekerja yang mengemas pun menghentikan pekerjaannya. Aksi yang berlangsung sekitar tiga jam itu untuk tidak terjadi bentrok. Setelah dijanjikan Kades akan dilakukan pertemuan antara warga dengan perusahaan, barulah warga membubarkan diri.

"Kita mengingatkan mereka (perusahaan) bahwa permasalahan lahan belum selesai antara perusahaan dan masyarakat yang tergabung  ke dalam Ketan Karya Hubbulwathan," ujar Nahar.Warga yang ikut berdemo, terdiri dari perempuan dan laki-laki. Mereka berteriak dan mengaku akan melakukan pembakaran alat berat itu bila pekerjaan tidak dihentikan.

"Bila eskavator tidak berhenti melakukan aktivitasnya, maka masyarakat akan melakukan  pembakaran terahadap alat berat itu. Sampai kapan pun, kami akan mempertahankan lahan yang diklaim oleh perusahaan masuk ke dalam areal perkebunan dan HGU-nya itu.

 Kita akan pertahankan hingga darah pengahabisan, karena dari berkebun inilah kami hidup dan memenuhi kebutuhan keluarga salah seorang pendemo yang minta namanya tidak ditulis kepada Tribun saat aksi.Aksi penghadangan dan pengusiran alat berat ini, mendapat pengawalan ketat dari kepolisian. Terlihat hadir di lokasi, Kades Petani Rianto dan Kasi Pemerintahan. (nol)

Penulis : zulham
Editor : zulham

© 2010 Tribunnewspekanbaru.com. All Right Reserved | Redaksi | Contact Us | Info iklan | Website By Ioezhe