Home / Bumi Lancang Kuning / Kampar
Pedagang Ancam Bangun Kios Sendiri
Tribun Pekanbaru - Kamis, 20 Januari 2011 06:36 WIB
Share |
Pedagang-Pasar-Air-Tiris.jpg
Budi/ Tribun Pekanbaru
Anacam - Pedagang Pasar Air Tiris, Kecamatan Kampar, mengancam akan membangun sendiri kios milik mereka sesuai dengan posisi tapak yang selama ini ditempati.
BANGKINANG, Tribunnewspekanbaru.com - Pedagang Pasar Air Tiris, Kecamatan Kampar, mengancam akan membangun sendiri kios milik mereka sesuai dengan posisi tapak yang selama ini ditempati, sebelum dilakukan peremajaan.Pedagang mengaku ancaman tersebut merupakan bentuk kekecewaan mereka selama ini, karena dipermainkan oleh Pemerintah Kabupaten Kampar.

"Kami akan tetap membangun kios sampai pemerintah daerah merealisasikan komitmennya. Kembalikan kami pada posisi dimana tapak tanah kami berada. Jangan lagi kami dipermainkan. Sudah cukup kesabaran kami selama ini. Tidak ada solusi yang diberikan," ungkap Nuraini, Pedagang Pasar Air Tiris, Rabu (19/1).

Nuraini mengatakan, pedagang sudah berupaya bersabar. Bahkan dengan berbagai cara pun sudah dijalankan. Termasuk bertemu dengan Sekda dan mengadu ke DPRD Kampar. Namun, tidak ada solusi yang didapatkan. Bahkan pedagang dibiarkan dalam kondisi terombang-ambing.

"Omongan siapa yang bisa kami pegang. Tidak ada yang mampu memberikan jalan keluar bagi kami. Kami hanya didiamkan saja. Saat kami berontak, kami diberikan harapan. Namun saat telah diam, tak satupun pejabat yang mempertanyakannya," keluh Nuraini kepada Tribun dengan nada kesal, kemarin.

Hal senada juga dipaparkan Nazaruddin. Pedagang yang biasa disapa Datuk ini, tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Menurutnya, selama ini apa yang dikatakan pemerintah daerah hanyalah omong kosong belaka. Pedagang diposisikan sebagai barang mainan yang diperlakukan seenaknya.

"Semuanya hanya omong kosong. Sudah berapa kali kami upayakan. Bertanya pada camat, Lurah, Sekda, Bupati sampai DPRD, sampai sekarang tidak ada solusinya. Kami hanya diberikan janji-janji saja. Sedangkan mereka sama sekali tidak tahu bagaiamana penderitaan kami," ungkapnya.

Menurut Nazaruddin, Pasar Air Tiris ini sudah tiga kali diremajakan, dan tidak pernah ada masalah, padahal yang mengatur hanyalah ninik mamak. Namun, saat pejabat daerah yang melakukan peremajaan, justru timbul banyak masalah.

"Kalau sejak awal Pemda melalui panitia pembangunan pasar bisa bersikap adil, tidak ada masalah. Mereka itu orang-orang terpelajar. Pendidikan tinggi, tapi tidak sesuai dengan apa yang mereka pelajari. Kami merasa ditelantar kan," katanya.Ditambahkan Nazaruddin, tanah yang saat ini ditempati pedagang adalah milik Kenegerian.

Pemerintah daerah hanya mebantu pembangunan. Dengan kondisi tersebut, seharusnya semua pedagang bisa di wadahi dengan pembangunan kios yang ada. Justru pedagang yang punya tapak disingkirkan."Kami punya tapak di depan, namun saat dibangun, kami malah ditempatkan di belakang.

Parahnya lagi, pedagang yang selama ini tidak pernah tampak, dan tidak berjualan di Pasar Air  Tiris, justru mendapat tapak di depan. Mana komitmen dulu yang pernah diucapkan," kata Nazaruddin menagih janji. Dari pantauan Tribun di lokasi, terlihat dua onggok kerikil yang sengaja disediakan pedagang. Kerikil tersebut dijadikan sebagai material pembangunan kios.

Bahkan, pedagang mengaku akan mendatangkan bata sebagai bentuk komitmen membangun kios sendiri. "Kami juga sudah pesan batu bata. Kami tidak main-main dengan ancaman ini. kami hanya ingin keadilan. seperti komitmen sebelum pasar diremajakan," ungkap Nazaruddin.

Tuntutan pedagang sendiri bermula, pada renovasi kios tiga tahun lalu. Saat itu, sebelum pasar direvitalisasi, Camat Kampar ketika itu dijabat Amri Yoedo dan Lurah Air Tiris, Darmansyah serta pejabat dari Dinas Perindag Kampar, menjanjikan kepada para pedagang akan tetap menempati posisi tempat persis dimana tempatnya berada sebelum pasar direvitalisasi.

Tapi kenyataan sekarang sangat bertolak belakang. Bahkan, pedagang yang memilki tapak di depan, malah digeser ke bagian belakang. Sedangkan lapak mereka ditempati pedagang lainnya yang disinyalir sudah dikondisikan sejak awal.

Melihat Kondisi tersebut, pedagang sudah mengupayakannya lewat Lurah, camat, Sekda,Bupati bahkan DPRD. Namun dari usaha yang dilakukan tersebut, pedagang hanya mendapatkan angan-angan semata. Beberapa kali Hearing dengan DPRD, pedagang sampai sekarang tidak mendapatkan solusi kongkrit. Sampai akhirnya mengancam akan membangun kios sendiri. (brt)

Penulis : zulham
Editor : zulham

© 2010 Tribunnewspekanbaru.com. All Right Reserved | Redaksi | Contact Us | Info iklan | Website By Ioezhe