Home / Bumi Lancang Kuning / Kampar
Beras Palembang Jadi Alternatif
Tribun Pekanbaru - Kamis, 20 Januari 2011 06:34 WIB
Share |
Bangkinang-beralih-ke-beras-asal-Palembang.jpg
Budi/ Tribun Pekanbau
Harga Beras - Tingginya harga beras mudik (Sumatera Barat) yang mencapai Rp 13-14 ribu per kilogram (kg), membuat warga Bangkinang beralih ke beras asal Palembang, Sumatera Selatan.
BANGKINANG, Tribunnewspekanbaru.com - Tingginya harga beras mudik (Sumatera Barat) yang mencapai Rp 13-14 ribu per kilogram (kg), membuat warga Bangkinang beralih ke beras asal Palembang, Sumatera Selatan.Erna, warga Bangkinang, mengatakan, dengan harga relatif murah dari harga beras Sumbar, ia berharap anak-anaknya bisa makan. Erna terpaksa beralih ke beras Palembang, meski rasanya kurang enak. Hanya sesekali saja ia mencoba beras asal Sumbar.

Itupun kalau ada uang lebih saja Kondisi saat ini semakin sulit. Kebutuhan pokok seperti beras, sudah tidak masuk akal lagi. Bayangkan saja, harganya sudah mencapai Rp 14 ribu per kilonya. Padahal sebelumnya saya bisa mendapatkan dengan harga Rp 8.000 saja. Saya terpaksa melakukan penghematan," ujar Erna, kepada Tribun, Rabu (19/1).

Dengan kondisi seperti itu, ia berharap, pemerintah memberikan perhatian lebih guna menekan harga kembali menjadi stabil seperti semula. "Harga mesti disesuaikan dengan kemampuan belanja masyarakat. Jangalah terlalu tinggi. Bisa-bisa masyarakat malah tidak makan lagi," pintanya.

Amiruddin, pedagang beras Pasar Inpres, Bangkinang mengakui, kenaikan harga beras saat ini diakibatkan gagal penen di daerah yang menjadi produsen. Ia memperkirakan, harga semakin melonjak dalam beberapa hari kedepan."Saat ini harga masih berada pada kisaran Rp 13-14 ribu per kilonya. Namun, harga tersebut akan terus meninggi dalam beberapa hari ke depan.

Pasalnya, kondisi yang terjadi di daerah penghasil, seperti di Sumbar yang masih terjadi gagal panen," ungkapnya.Keberadaan beras asal Palembang, tutur Amiruddin, menjadi solusi atau pilihan bagi masyarakat. Bagi yang tidak mampu membeli beras Sumbar, masyarakat bisa mengupayakan beras Palembang, meskipun rasanya jauh berbeda.

"Kalau tidak ada beras Palembang ini, masyarakat yang kurang mampu pasti semakin kepayahan. Bisa-bisa malah tidak makan," ujarnya.Menurut pedagang yang mengaku dalam satu hari menyediakan 2 ton beras asal Payakumbuh dan Palembang ini, sebaiknya ada koperasi di pasar yang diupayakan menekan harga. Dengan keberadaan koperasi tersebut, masyarakat masih bisa mendapatkan harga yang relatif murah.

Tingginya harga beras juga rasakan oleh pedagang di Pasar Air Tiris, Pendi. Menurutnya harga beras asal Sumbar memang lebih mahal dibanding Palembang. Kenaikan tersebut diakuinya karena kondisi alam yang tidak menentu serta jadwal panen yang mengakibatkan pendistribusian terkendala.

"Banyak masyarakat yang mengeluh. Tapi bagaimana lagi, memang kondisi alam yang menjadikan harga menjadi mahal. Namun saya masih melihat, beberapa masyarakat masih mengupayakan membeli meski harganya sangat tinggi," ujar Pendi.Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kampar, Indra Pomi, mengatakan akan mengupayakan menggelar Operasi Pasar (OP) bekerja sama dengan Bulog dan Provinsi.

Dikatakannya, harga yang akan ditawarkan bagi masyarakat untuk beras Bulog nanti berkisar Rp 6.500 per kilonya. Beras Bulog tersebut tentunya dengan kualitas baik."Beras asal Vietnam tersebut tergolong sangat bagus. Jadi kita berharap operasi pasar nantinya juga mendapat respon. Masyarakat akan terbantu dan harga bisa ditekan," ujarnya. (brt)

Penulis : zulham
Editor : zulham

© 2010 Tribunnewspekanbaru.com. All Right Reserved | Redaksi | Contact Us | Info iklan | Website By Ioezhe