Home / Bumi Lancang Kuning / Indragiri Hulu
Kelompok Ternak Hasilkan Biogas
Tribun Pekanbaru - Rabu, 12 Januari 2011 13:43 WIB
Share |
berbahan-bakar-biogas.jpg
Rahmadi/ Tribun Pekanbaru
Biogas - Salah seorang warga menyalakan lampu petromak berbahan bakar biogas yang dihasilkan KPPIB Jaya Bersama
RENGAT, Tribunnewspekanbaru.com - Kelompok Petani Peternak Inseminasi Buatan (KPPIB) Jaya Bersama, Desa Perkebunan Sei Lala, Kecamatan Sei Lala, Kabupaten Inhu, berhasil menerapkan energi alternatif dari kotoran hewan atau lazim dikenal dengan sebutan biogas.
Penggunaan kotoran hewan untuk energi ini, mampu menghemat pengeluaran rumah tangga, ketika dibelikan minyak tanah hingga Rp 330 ribu per bulan.

Kelompok ternak ini juga sudah menerapkan pola integrasi ternak dan tanaman secara intensif ini sukses mengembangkan biogas untuk keperluan memasak hingga penerangan lampu petromaks dan menghidupkan genset mini."Alhamdulillah, biogas yang kami ciptakan ini sudah mampu menyaingi produk perusahaan sehingga sudah bisa dikomersilkan.

Keberhasilan ini merupakan hasil evaluasi selama dua tahun, di antaranya pernah mengalami kegagalan," ujar Ketua KPPIB Jaya Bersama, Mujito didampingi Kepala UPT Dinas Peternakan dan Perikanan Kecamatan Sei Lala dan Lubuk Batu Jaya, Akhda Maipin serta drh Syaifullah selaku tenaga pendamping, Selasa (11/10).

Keberhasilan kelompok petani peternak ini mungkin pertama kalinya di Riau. Bahkan metode yang digunakan dalam proses pembuatan biogas tersebut, diklaim sebagai yang paling sederhana di Indonesia.Syaifullah menjelaskan, menghasilkan biogas, diperlukan hanyalah kotoran sapi yang dicampur air dengan perbandingan kira-kira 1:2.

Kotoran sapi yang sudah dicampur air tersebut kemudian diaduk dalam sebuah bak, selanjutnya dimasukkan ke dalam digester atau reaktor, hingga terjadi proses permentasi yang menghasilkan gas metan.Gas metan ini kemudian disalurkan menggunakan pipa atau selang ke kompor atau lampu petromaks dan dapat langsung dipergunakan. Bahkan, hingga jarak 100 meter dari digester.

"Awalnya digester yang kami buat menggunakan drum dengan kapasitas 1,5 M3 dan dapat digunakan 2 jam pagi dan 2 jam sore. Kemudian menggunakan fiberglass hingga yang keenam kami membuat digester bekontruksi beton dengan kapasitas 5,2 M3, mampu memasok  kebutuhan untuk dua rumah tangga," ungkap Syaifullah.

Digester buatan KPPIB Jaya Bersama ini diperkirakan mampu bertahan hingga 20 tahun. Sedangkan untuk mengoperasikan digester kontruksi beton dengan kapasitas 5,2 M3 tersebut, petani peternak cukup memelihara dua ekor sapi usia 1,5 tahun dengan berat badan sekitar 200 kg."Dan yang tak kalah pentingnya, limbah kotoran hewan hasil permentasi digester dapat dijadikan pupuk organik dalam bentuk cair maupun padat.

KPPIB Jaya Bersama juga sudah mengembangkannya, bahkan sudah diperjualbelikan ke petani. Sehingga peternak dapat memanfaatkan seluruh kotoran tanpa ada yang tersisa," tambahnya.Syaifullah menyebutkan, karya yang dihasilkan KPPIB Jaya Bersama sudah diakui Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Kelompok ini juga sudah menerima pesanan untuk pembuatan digester dari tiga kabupaten di Riau, Indragiri Hilir (Inhil), Kuantan Singingi (Kuansing) dan Pelalawan.Kepala Desa Perkebunan Sei Lala, Hermanto berharap Pemkab Inhu dapat mendukung dan mengembangkan karya yang sudah dihasilkan KPPIB Jaya Bersama.

Sebab selama ini, dana untuk proses penelitian dilakukan secara swadaya baik dengan sesama anggota kelompok maupun dengan masyarakat."Kami sebenarnya ingin menggunakan biogas dari kotoran ini untuk keperluan rumah tangga di Desa Perkebunan Sei Lala. Namun kendalanya terkait dana untuk pembuatan digester dan tidak semua warga memiliki ternak," ungkapnya. (rgt)

Penulis : zulham
Editor : zulham

© 2010 Tribunnewspekanbaru.com. All Right Reserved | Redaksi | Contact Us | Info iklan | Website By Ioezhe