Home / Jiran
Panik, Ratusan Warga Kamboja Tewas Terinjak
Tribun Pekanbaru - Selasa, 23 November 2010 11:51 WIB
Share |
Insiden_Festival_Air_Kamboja.jpg
kompas.com
Kepanikan para penonton festival air di jembatan yang menghubungkan Pulau Pitch Koh dengan daratan Kamboja, Senin (22/11) malam. Lebih dari 300 orang tewas.
PHNOM PENH, TRIBUNNEWSPEKANBARU.COM - Lebih dari 345 orang tewas dalam sebuah kepanikan di acara festival air di Kamboja, Senin (23/11) malam.

Perdana Menteri Hun Sen mengatakan,   ratusan lainnya terluka pada acara di pulau kecil itu saat kerumunan orang panik dan terjatuh dari jembatan yang menghubungkannya dengan daratan Kamboja.
Yang ia gambarkan sebagai insiden terburuk sejak peristiwa Khmer Merah, yang pada masa pemerintahannya di tahun 1975-1979 menyebabkan terbunuhnya seperempat populasi Kamboja.

"Ini merupakan tragedi terbesar sejak rezim Pol Pot," ujar Hun Sen dalam sebuah siaran langsung televisi nasional, seperti dikutip AFP, Selasa (23/11).

Dia mengatakan Kamboja akan menetapkan Kamis, 25 November, sebagai hari berkabung nasional. "Saya ingin menyampaikan rasa belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada kepada warga dan anggota keluarga yang ditinggalkan," lanjutnya.

Hun Sen mengatakan bahwa ia telah merencanakan pengiriman jenazah-jenazah pengunjung yang berasal dari luar kota kembali ke kampung halamannya.

"Kekacauan tersebut mengakibatkan sedikitnya 345 orang tewas dan 410 lainnya cedera," ujar seorang juru bicara pemerintah Khieu Kanharith. "Kebanyakan korban tewas akibat kehabisan nafas dan luka dalam," pungkasnya.

Aparat berwenang memperkirakan, lebih dari 2 juta orang yang mungkin menghadiri acara selama tiga hari yang daya tarik utamanya adalah perlombaan perahu tradisional sepanjang Sungai Tonle Sap. Puluhan ambulans didatangkan ke lokasi kejadian, di jembatan yang sempit yang menghubungkan Pulau Diamond di Phnom Penh, di mana festival itu diselenggarakan.

Perlombaan itu berakhir pada sore hari. Kepanikan terjadi di Pulau Pitch Koh, tempat acara berlangsung. So Cheata, penjual minuman ringan, mengatakan, peristiwa itu berawal ketika 10 orang jatuh pingsan. Dia mengatakan, pingsannya 10 orang itu kemudian berubah menjadi kepanikan hingga banyak orang terinjak-injak.

Sebagain orang itu kemudian meringkuk di sebuah jembatan yang sangat penuh orang, menyebabkan orang-orang saling tindih atau melompat dari jembatan. So Cheata mengatakan, dia kemudian melihat ratusan orang luka-luka tergeletak di tanah.

Seorang pegawai Rumah Sakit Calmette mengatakan, 17 jenazah sudah dibawa dari tepi sungai itu.
Polisi dan aparat terkait tidak bersedia menjelaskan lebih lanjut karena sedang sibuk menyelamatkan korban luka. Kamboja merupakan salah satu negara di kawasan miskin dan memiliki sistem kesehatan yang terbelakang, dengan rumah sakit yang hampir tidak mampu melayani kebutuhan harian.



Penulis : ema_damayanti
Editor : ema_damayanti
Sumber : Kompas.com

© 2010 Tribunnewspekanbaru.com. All Right Reserved | Redaksi | Contact Us | Info iklan | Website By Ioezhe