Home / Riau Region
Hijazi Khawatir Harga tak Stabil
Tribun Pekanbaru - Kamis, 19 Agustus 2010 08:58 WIB
Share |
BATAM, TRIBUN - Stabilitas harga dan distribusi kebutuhan pokok memasuki Ramadan 1431 Hijriah, Idul Fitri, Natal, dan tahun baru 2011 menjadi bahasan penting Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam dalam rapat Muspida, Selasa (3/8).

Kepala Disperindag Ahmad Hijazi mengungkapkan potensi instabilitas harga pangan akan dirasakan di Batam. Menurutnya, masalah itu tidak akan muncul apabila terjadi ketidakstabilan pada situasi harga rendah.

“Namun masalah justru akan muncul jika ketidakstabilan terjadi pada harga kebutuhan pokok yang memang sudah berada pada situasi harga tinggi. Untuk itu stok yang berada pada distributor harus selalu tersedia,” ungkapnya.

Hijazi menyebutkan ada beberapa faktor yang menyebabkan krisis pangan terjadi sejak awal 2009 hingga pertengahan 2010 ini. Di antaranya adalah stok pangan global yang semakin rendah, penurunan suplai, dan ketidakpastian produksi akibat pemanasan global, rendahnya investasi, meningkatnya permintaan serta munculnya spekulasi di pasar komoditas pangan.

Disperindag, ungkap Hijazi, akan berupaya untuk menjamin kelancaran distribusi dan pasokan serta ketersediaan barang di pasaran. “Strategi dan langkah stabilisasi harga serta kelancaran distribusi ini tujuannya supaya tidak terjadi kepanikan masyarakat ketika terjadi perubahan harga,” jelasnya.

Mengenai lonjakan harga kebutuhan gula sejak Januari 2010, Hijazi
mengemukakan bahwa hal tersebut diakibatkan efek peralihan gula impor ke lokal. “Pada bulan Juni harga gula berada pada level 9.000 rupiah dan per kilogram (kg) melonjak ke titik Rp 10.000 pada bulan Juli. Ini juga disebabkan karena peralihan gula impor yang sudah habis ketika beralih ke gula lokal,” jelasnya.

Sementara untuk memperlancar distribusi di Batam, Hijazi menjelaskan bahwa Disperindag akan mengupayakan supaya 5 importir yang ditunjuk BP Batam juga turut mendistribusikan gula lokal dari daerah produksi di Indonesia.
“Selama ini baru satu atau dua importir yang komit untuk melakukan impor.

Untuk itu kami juga mengupayakan importir lainnya yang tersisa bisa diberdayakan dengan mendistribusikan gula lokal. Kebutuhan gula di Batam saat ini per bulannya mencapai 1.800 ton,” terang Hijazi.(san)

Editor : ioezhe

© 2010 Tribunnewspekanbaru.com. All Right Reserved | Redaksi | Contact Us | Info iklan | Website By Ioezhe